Percepat Eksplorasi Migas, Jonan Ingin RI Punya Super Computer Ala ENI

ENI, sebuah perusahaan migas yang sebagian sahamnya dimiliki pemerintah Italia, membangun super computer, yang bisa mendeteksi dan membuat keputusan untuk eksplorasi minyak dan gas (migas) hanya hitungan dua bulan. Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan ingin Indonesia juga punya super computer.

“Ini penting, supaya eksplorasi di kita cepat,” kata Jonan seusai mengunjungi Green Data Center ENI di pinggiran Kota Milan, Italia, Jumat (9/11).

Jonan menyebut, dua lembaga untuk bertugas merealisasikan hal ini, yaitu SKK Migas dan Pusat Survei Geologi. Pimpinan dua lembaga ini, yaitu Wakil Kepala SKK Migas Sukandar dan Kepala Pusat Survei Geologi Eko Budi Lelono turut serta dalam kunjungan ini.

Green Data Center ENI – tempat Super Computer beroperasi – yang berdiri di luas lahan 20 hektare ini berada di sebuah perdesaan yang jauh dari hiruk pikuk kota. Ada beberapa gedung di areal luas ini. ENI membangun sangat serius Green Data Center ini, dengan biaya tidak kecil, lebih dari USD 100 juta.

Control Room Green Data Center ENI di Italia.

Data Center yang dibangun pun tidak ala kadarnya, tapi dibangun dengan ‘green design’, ramah lingkungan. ENI sangat memperhatikan bagaimana energi yang dipakai untuk puluhan ribu komputer, bagaimana membangun desain gedung agar suhu di gedung data center terjaga dengan baik, bagaimana supaya debu-debu tidak hinggap di komputer-komputer, dan sebagainya. ENI sangat detail membangun green data center ini.

Terlalu panjang untuk menggambarkan dan terlalu lama untuk memahami bagaimana Super Computer ENI ini bekerja. Apalagi hanya dengan kunjungan Super Computer ENI dalam waktu 1-2 jam. Yang jelas, dengan Super Computer ini, ENI sangat dimudahkan dalam mendeteksi ladang minyak dan gas, mengetahui seberapa banyak cadangan migas di ladang itu, dan membuat keputusan cepat dalam melakukan eksplorasi.

Ruang Super Computer ENI di Italia.

Tanpa bantuan teknologi ala Super Computer ini, perusahaan migas yang menggunakan sistem manual, butuh waktu bertahun-tahun bahkan belasan tahun untuk membuat keputusan eksplorasi. Namun, dengan Super Computer ini, keputusan bisa diambil dalam waktu lebih cepat, hanya dua bulan.

Super Computer ini mengambil data-data mengenai seismik, subsurface, survei bawah laut, di berbagai lokasi dan segala macam survei terkait kepentingan eksplorasi dan produksi migas.

Data-data itu kemudian diolah secara komputer dengan lebih cepat dan kemudian menghasilkan gambar dua dimensi atau tiga dimensi terkait ladang migas yang sedang dicari, baik di daratan maupun di lepas pantai (offshore).

Data gambar ini, salah satu dari data-data yang dihasilkan Super Computer, yang akan membantu manajemen ENI untuk membuat keputusan terkait eksplorasi dan produksi migas. Data-data yang dihasilkan Super Computer bisa dibaca oleh tim geologis dan petroleum engineer. Singkatnya, Sumper Computer ini sangat membantu manajemen dalam membangun dan mengembangkan bisnis hulu ENI.

Control Room Green Data Center ENI di Italia.

Saat ini, ENI mengelola ladang migas di 52 negara, termasuk di Indonesia. Meski perusahaan Italia, ENI tidak memililiki ladang migas di Italia. ENI juga dikenal sebagai perusahaan migas yang memiliki teknologi tinggi di ladang migas lepas pantai.

Seusai mengunjungi Green Data Center ini, Jonan langsung mengumpulkan Dirjen Migas Djoko Siswanto, Wakil Kepala SKK Migas Sukandar, Direktur Hulu Pertamina Darmawan Samsu, Kepala Pusat Survei Geologi Eko Budi Lelono, Kepala Lemigas Setyorini Tri Hutami, dan beberapa pejabat lain. Jonan meminta mereka untuk merancang dan merealisasikan teknologi semacam Super Computer di Indonesia untuk mempercepat eksplorasi.

Jonan memuji Super Computer ENI. “Sistem ini bisa mengelola dan mengkonversi hasil survei dalam bentuk dua atau tiga dimensi dari data-data subsurface, survei bawah laut, seismik, maupun potensi minyak dan gas. Datanya bisa dibaca geologis dan para petroleum engineer. Zaman dulu, untuk membaca data subsurface seluas 100 km persegi saja dan mengkonversi datanya bisa bertahun-tahun. Sekarang bisa cepat,” kata Jonan.

Menurut Jonan, ada dua tujuan Super Computer ENI. Pertama, mengurangi risiko kegagalan eksplorasi, yang artinya tidak membuang banyak biaya. Kedua, meningkatkan rasio keberhasilan survei, karena dengan data ini bisa menentukan akurasi tidaknya cadangan migas.

“Jadi, yang ingin saya sampaikan, kalau ada pengamat atau siapa pun yang mengatakan bahwa cadangan minyak dan gas kita habis pada 2030, itu pernyataan yang tidak pas. Kenapa? Karena cadangan minyak itu ada P1 (Proven reserve), yaitu cadangan yang sudah pasti ada dan ada P2 (probable reserve), cadangan yang masih belum pasti. Untuk membuktikan cadangan minyak ini, tergantung teknologi,” jelas Jonan.

Menteri ESDM Ignasius Jonan saat Mengunjungi Green Data Center ENI di Italia.

Jonan yakin masih banyak cadangan minyak dan gas di Indonesia yang belum ditemukan. “Kita harus survei. Temukan cadangan-cadangan baru. Dulu enggak ketemu, karena belum ada teknologi. Jadi, cadangan ini sangat tergantung dengan teknologi,” jelas dia.

Jonan mencontohkan blok Banyuurip, Cepu. “Itu 30 tahun lalu dikelola Pertamina dan Humpuss, enggak ketemu apa-apa. Begitu ExxonMobile masuk 20 tahun lalu, akhirnya ketemu. Sekarang bahkan blok ini memproduksi minyak 208 ribu barel per hari. Ini karena teknologi berkembang,” ujar dia.

Contoh lain, Blok Masela di perairan Maluku. “Zaman dulu, enggak ketemu gasnya. Begitu Inpex masuk, ketemu dan sekarang mulai persiapan produksi,” ucap dia.

Begitu juga yang dilakukan ENI saat mencari ladang gas di blok Zohr, Mesir. “Cadangan gas di Zohr ini 30 TCF (Trilion Cubic Feet), ini hampir 3 kalinya Masela. Dulu enggak ketemu. ENI juga bilang tadi menemukan ladang gas di Mozambik, sebesar 80 TCF, 8 kali blok Masela. Jadi kuncinya teknologi,” jelas Jonan.

Saat ini, sangat sedikit ladang sumur baru migas di Indonesia, sehingga Indonesia banyak mengimpor BBM dari luar negeri. Karena itu, untuk menambah dan mempercepat eksplorasi migas, Jonan meminta membangun data center seperti yang dibangun ENI.

“Saya akan memerintahkan SKK Migas harus punya data center begitu sendiri. Kalau perlu kita ubah tupoksinya. Kalau tidak, ya nanti Pusat Survei Geologi kita. Kalau SKK Migas kan sebenarnya lebih pada regulasi,” kata Jonan.

Menteri ESDM Ignasius Jonan saat Mengunjungi Green Data Center ENI di Italia.

“Kita dorong Pusat Survei Geologi buat Super Computer sendiri. Tidak perlu sebesar ENI, karena ENI beroperasi di 52 negara. Bisa seperlimanya atau berapa gitu. Saat ini, kita masih semi manual. Untuk mengelola sumberdaya mineral harus modern,” sambung Jonan.

Dengan Super Computer, di Indonesia ENI – lewat bendera ENI Muara Bakau – bisa membangun dan mengelola lapangan gas Jangkrik, Muara Bakau, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur dengan lebih cepat. Rencana waktu pembangunan lapangan Jangkrik yang awalnya butuh 4 tahun, bisa direalisasikan dalam waktu 3,5 tahun. Hal yang sama juga dilakukan ENI yang akan membangun lapangan gas Merakes, di Blok East Sepinggan, Kalimantan Timur.

Saat ditanya apakah dalam membangun Super Computer, Indonesia nanti bisa bekerja sama dengan ENI, Jonan mengatakan bisa saja. “Saya nanti akan atur dengan SKK Migas, Wamen, Dirjen Migas, mengundang ENI untuk studi bersama. Semua. Supaya eksplorasi kita cepat,” kata Jonan.

Saat ini, Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada Pertamina untuk melakukan eksplorasi. Selama ini, Pertamina juga tidak melakukan eksplorasi besar-besaran, lebih banyak mengambil ladang yang memiliki cadangan yang akan habis.

“Jadi hulu migas ini, kuncinya adalah eksplorasi. Kalau dia dapat cadangan baru, bisnisnya akan besar,” kata Jonan.

Sumber : Kumparan

Djamal Aziz dotcom bukan pemilik berita diatas.

WhatsApp chat