Pekerja Konstruksi Bersertifikat Baru 616 Ribu – Djamal Aziz dotcom

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat jumlah tenaga kerja konstruksi yang telah tersertifikasi saat ini masih rendah. Dari total 8,3 juta orang tenaga kerja konstruksi, sampai dengan akhir 2018 kemarin baru 616.081 orang atau 7,42 persen saja yang tersertifikasi.

“Padahal, Kementerian PUPR saja membutuhkan 1 juta tenaga (kerja konstruksi tersertikasi) setiap tahun. Itu baru di Kementerian PUPR saja. Infrastruktur konstruksi tidak hanya PUPR saja tetapi juga ada di Kementerian Perhubungan dan lainnya,” ujar Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR Dewi Chomistriana di Kantor Kementerian PUPR, Kamis (21/2).

Dewi merinci sebagian besar tenaga kerja konstruksi yang tersertifikasi merupakan pegawai terampil yaitu sebanyak 420.769 orang atau sekitar 68 persen. Sementara, 195.312 orang sisanya berasal dari tenaga ahli konstruksi.

Khusus untuk tenaga ahli konstruksi, distribusinya juga belum ideal. Pasalnya, sertifikasi untuk tenaga ahli madya mendominasi sekitar 53 persen, disusul ahli muda 43 persen, dan ahli utama 4 persen. Idealnya, porsi terbesar merupakan tenaga ahli muda agar ada regenerasi yang baik.

Melihat hal itu, Kementerian PUPR berupaya untuk meningkatkan jumlah tenaga kerja tersertifikasi. Terlebih, sumber daya manusia yang berkualitas dan kompeten menjadi modal utama untuk meningkatkan daya saing dan menghadapi revolusi industri 4.0.

Tahun ini, Kementerian PUPR menargetkan tenaga kerja konstruksi tersertifikasi bisa meningkat sekitar 212 ribu orang. Tenaga tersertifikasi tersebut harapannya bisa berasal dari dari tenaga terampil maupun tenaga ahli.

Sebanyak 26 ribu peserta sertifikasi berasal dari pendidikan vokasi dengan menggandeng SMK, politeknik dan perguruan tinggi. Selain itu, Kementerian PUPR juga akan jemput bola dengan mendatangi Badan Usaha Jasa Konstruksi yang sedang melaksanakan pekerjaan konstruksi.

Proses sertifikasi akan dilakukan di tempat (onsite). “Masih banyak tenaga kerja konstruksi yang sebenarnya sudah ahli, punya pengalaman, dan sering bekerja di sektor konstruksi tetapi belum tersertifikasi,” ujarnya.

Tak hanya itu, upaya peningkatan sertifikasi juga akan melibatkan asosiasi pelaku usaha serta Kementerian Ketenagakerjaan. Dalam hal ini, sertifikasi pekerja konstruksi bisa diaktifkan melalui Balai Latihan Kerja.

Sumber : CNN Indonesia
Djamal Aziz dotcom bukan pemilik berita diatas.

WhatsApp chat