Merapi 8 Kali Luncurkan Lava ke Kali Gendol Sejak Minggu – Djamal Aziz dotcom

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebut Gunung Merapi meluncurkan satu kali guguran lava pijar ke arah hulu Kali Gendol dengan jarak luncur 350 meter, Senin (4/3) pukul 00.00-06.00 WIB.

“Terpantau dari CCTV satu kali guguran ke arah Kali Gendol dengan jarak luncur 350 meter,” kicau BPPTKG lewat akun Twitter-nya, Senin (4/3).

Pada periode yang sama, BBPTKG juga mencatat enam kali gempa guguran dengan amplitudo 3-10 mm dan durasi 15,6-38 detik.

Selain gempa guguran, terekam pula satu kali gempa hembusan dengan amplitudo 8 mm selama 29 detik, satu kali gempa hybrid dengan amplitudo 7 mm selama 10,5 detik, dan satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 2 mm selama 55,8 detik.

Sehari sebelumnya, atau pada Minggu (3/3) pukul 00.00-24.00 WIB, guguran lava terjadi sebanyak tujuh kali. Lava itu mengarah ke tenggara atau Kali Gendol dengan jarak luncuran 300-900 meter.

Berdasarkan analisis morfologi kubah lava Gunung Merapi yang terakhir dirilis BPPTKG, volume kubah lava gunung api itu mencapai 461.000 meter kubik dengan laju pertumbuhan 1.300 meter kubik per hari.

Kubah lava masih stabil dengan laju pertumbuhan masih rendah, rata-rata kurang dari 20.000 meter kubik per hari.

Hingga saat ini BPPTKG masih mempertahankan status Gunung Merapi pada Level II atau Waspada, dan untuk sementara tidak merekomendasikan kegiatan pendakian kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan mitigasi bencana.

BPPTKG mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Sehubungan dengan kejadian guguran awan panas guguran dengan jarak luncurnya semakin jauh, BPPTKG mengimbau warga yang tinggal di kawasan alur Kali Gendol meningkatkan kewaspadaan.

Warga di kawasan itu juga diminta mewaspadai bahaya lahar hujan, terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak Gunung Merapi.

Warga mengungsi di Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (1/6/2018), saat Merapi erupsi.

Terpisah, Ketua Forum Komunikasi Sungai Sleman (FKSS) AG Irawan menyebut piahknya banyak menemukan sedimen di bantaran Sungai Code, Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sedimen yang mulai menggunung ini, kata dia, berpotensi mengganggu kelancaran aliran sungai yang berhulu Gunung Merapi tersebut karena memicu penyempitan dan pendangkalan aliran sungai.

“Apalagi saat ini di kawasan Utara [lereng] masih sering terjadi hujan deras, sehingga dikhawatirkan sungai tidak mampu menampung aliran air,” kata, dikutip dari Antara.

“Berbagai jenis tumbuhan liar seperti pohon pisang dan rumput juga banyak tumbuh. Pada bagian talud juga banyak ditumbuhi tanaman,” tambahnya.

Ketika hujan lebat, bisa saja warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai terkena banjir akibat luapan sungai.

“Pada beberapa sisi masih ada sampah yang menyangkut di sedimen-sedimen sungai, kondisi tersebut berbahaya. Sedimen akan mengganggu kedalaman dan aliran sungai,” katanya.

Menurutnya, sedimen di Sleman dan Yogyakarta Utara biasanya didominasi pasir yang bersumber dari lahar hujan Merapi.

“Sedangkan mulai Yogyakarta bagian selatan dan Kabupaten Bantul biasanya sudah mulai bercampur dengan padatan limbah,” tandasnya.

Sumber : CNN Indonesia
Djamal Aziz dotcom bukan pemilik berita diatas.

WhatsApp chat