Masuk Level Rp14.115 per Dolar AS, Rupiah Diprediksi Melemah – Djamal Aziz dotcom

Nilai tukar rupiah tercatat pada posisi Rp14.115 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Senin (18/2) pagi. Angka itu menguat 0,28 persen dibandingkan penutupan akhir pekan lalu Rp14.154 per dolar AS.

Pagi hari ini, sebagian mata uang utama negara-negara Asia menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Won Korea Selatan tercatat menguat 0,41 persen, ringgit Malaysia menguat 0,27 persen, baht Thailand menguat 0,12 persen, hingga peso Filipina mencatat penguatan 0,07 persen. Kemudian, dolar Singapura dan dolar Hong Kong masing-masing mencatat penguatan 0,07 persen dan 0,01 persen.

Hanya saja, mata uang seperti yuan China, yen Jepang, dan rupee India melemah 0,02 persen, 0,05 persen, dan 0,1 persen. Dengan demikian, rupiah menduduki peringkat kedua di Asia pada pagi ini.

Begitu juga halnya dengan mata uang negara maju. Dolar Australia tercatat menguat 0,17 persen terhadap dolar AS, sementara poundsterling Inggris dan Euro sama-sama menguat 0,15 persen dan 0,12 persen.

Kendati demikian, Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan masih ada potensi rupiah melemah untuk hari ini. Sebab, belum ada kepastian mengenai skema keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) menjelang tenggat 29 Maret mendatang, sehingga hal ini bikin investor cenderung wait and see.

Kemudian, sentimen juga muncul dari inflasi Januari China dan Indeks Harga Produsen yang tidak sesuai harapan. Adapun, inflasi Negeri Tirai Bambu itu naik 1,7 persen pada Januari secara tahunan, atau lebih lambat dari periode yang sama tahun sebelumnya 1,9 persen.

Terakhir, defisit neraca perdagangan yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) diperkirakan akan masih menghantui pikiran investor pada hari ini. Pada Jumat (15/2) kemarin, BPS mengumumkan defisit neraca perdagangan sebesar US$1,16 miliar atau melebar dibanding bulan sebelumnya US$1,1 miliar.

“Realisasi ini lebih dalam dibandingkan ekspektasi para analis yaitu ekspor turun atau terkontraksi 0,61 persen sementara impor juga minus 0,785 persen. Hasilnya, neraca perdagangan diperkirakan defisit US$ 925,5 juta,” jelas Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Senin (18/2).

Sumber : CNN Indonesia
Djamal Aziz dotcom bukan pemilik berita diatas.

WhatsApp chat