JICA Belum Putuskan Pinjaman untuk MRT Bundaran HI- Kota – Djamal Aziz dotcom

Badan Kerjasama Internasional Jepang (Japan International Cooperation Agency/JICA) menyatakan belum ada keputusan final terkait nilai anggaran yang akan diberikan kepada pemerintah Indonesia untuk melanjutkan pembangunan Moda Raya Terpadu (Mass Rapid Transit/MRT) Jakarta fase kedua yang akan menghubungkan kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat hingga Kota, Jakarta Utara.

“Sampai sekarang masih belum fix totalnya berapa karena masih dalam tahap evaluasi,” kata Kepala Perwakilan Kantor JICA Indonesia Shinichi Yamanaka usai menghadiri rapat persiapan kerangka implementasi tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) antara JICA dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Kamis (4/4).

Ia menjelaskan nilai anggaran belum diputuskan karena pihak JICA masih perlu melakukan evaluasi atas pembangunan MRT fase pertama dari kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan hingga Bundaran HI. Kemudian, JICA juga perlu mengevaluasi rencana pembangunan yang sepenuhnya akan berada di bawah tanah.

“Fase kedua sepenuhnya di bawah tanah, fase pertama ada yang elevated track, ada yang underground track. Kali ini semuanya underground, memang biaya yang dibutuhkan lebih banyak,” ujarnya.

Selain itu, mereka perlu juga mengevaluasi dampak perubahan titik pembangunan stasiun yang semula akan dibangun di kawasan Kampung Bandan menjadi di Kota terhadap kebutuhan anggaran pembangunan. Kendati begitu, ia belum bisa memastikan kapan sekiranya keputusan nilai suntikan anggaran bisa diumumkan ke publik.

“Kota memang sudah penuh, cukup crowded, jadi memang butuh biaya yang lebih besar dibanding fase pertama,” jelasnya.

Sebelumnya, Direktur UtamaPTMRT JakartaWilliamSabandar mengungkapkanpembangunanMRT Jakarta fase kedua membutuhkan anggaran sebesar Rp22,5 triliun. Anggaran tersebut jauh lebih besar dari total anggaran yang dihabiskan untuk pembangunanMRT Jakarta fase pertama sebesar Rp16 triliun.
Padahal, jumlah stasiun yang akan dibangun pada fase kedua hanya delapan stasiun, sementara pada fase pertama mencapai 13 stasiun. Namun, jalur perjalanan MRT Jakarta fase kedua sepenuhnya akan di bawah tanah, sedangkan fase pertama merupakan kombinasi jalur bawah tanah dan layang.

William mengatakan proses pembangunan MRT fase kedua akan dimulai dengan pembebasan lahan dan penanganan utilitas. Pasalnya, pelelangan paket untuk pembangunan gardu bawah tanah yang terletak di kawasan Monas sudah selesai dilakukan.

“Sekarang ini kami dalam proses pelelangan CP201 dari Bundaran HI ke Harmoni. Kemudian, kami akan mulai pelelangan-pelelangan selanjutnya,” katanya beberapa waktu lalu.

MRT fase kedua akan meliputi pembangunan tujuh stasiun di antaranya Stasiun Sarinah, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, hingga Kota Tua. Pembangunan MRT fase kedua juga akan menyertakan pembangunan depo untuk parkir kereta. Namun, sampai saat ini, lokasi depo belum ditentukan.

Pembangunan MRT Jakarta fase kedua ditargetkan selesai pada 2024 mendatang. Pada 2024, rencananya pembangunan MRT tak hanya selesai dari sisi jalur, namun juga pembangunan kawasan hunian terintegrasi (Transit Oriented Development/TOD). Di sisi lain, perusahaan juga akan memulai pembangunan MRT Jakarta dari kawasan timur ke barat ibu kota.

Sumber : CNN Indonesia
Djamal Aziz dotcom bukan pemilik berita diatas.

WhatsApp chat